Thursday, 29 January 2009

Genesis Town of Banyuwangi.

[At] former epoch [in] area tip of Province East Java east there are a big empire which governed by a wise and fair King. The king have a so called gallant putra [of] Raden Banterang. Exasperation of Raden Banterang [is] to hunt. " This morning [is] I will hunt to forest. Prepare appliance hunt," word of Raden Banterang to [all] serving of. After equipments hunt ready to, Raden Banterang accompanied some its attendant go to forest. When Raden Banterang walk alone, he see a deer pass by quickly [in front/ahead] of him. He immediately pursue that deer till enter far to forest. He are separate with [all] its attendant.
" Kemana a mentioned deer?", word of Raden Banterang, when losing of its hunting footstep. " Will my [of] searching continue earn," its intention. Raden Banterang infiltrate coppice and grove of forest. But, that big game [do] not be found. He arrive at a very river [of] its water transparent. " Hem, very fresh [of] this river water," Raden Banterang drink that river water, feel to lose thirst. Afterwards, he leave river. But newly some step walk, [is] sudden surprised [by] arrival a pretty cutie.
" Ha? A pretty cutie? Is he is real correct a human being? Devil don't penunggu of forest," burble Raden Banterang ask around. Raden Banterang dare to come near that cutie. " You [is] human being or penunggu of forest?" address Raden Banterang. " I [is] human being," that girl [reply/ answer] at the same time smile. Raden Banterang even also introduce x'self. That cutie greeting [him/ it]. " Name of me of Surati come from empire of Klungkung". " I at one's post this because saving x'self of enemy attack. Father I have [be] killed in maintaining monarchic crown," Sharpness. Hearing that girl utterance, Raden Banterang surprised bravo. See grief of princess of Klungkung that, Raden Banterang immediately help and inviting [him/ it] [go/come] home to palace. A few moment later they menikah develop;build happy family
At one particular day, princess of Klungkung walk along alone out palace. " Surati! Surati!", call a dressy men [of] compang-camping. After perceiving that boy face, he conscious newly that which berada di depan [him/it] [is] sister contain so called him [of] Rupaksa. Intend arrival of Rupaksa is to invite its [sister/ brother] to revenge, because Raden Banterang have killed its my father. Surati narrate that he [is] wife will Raden Banterang because have is indebted. That way, Surati do not want to assist sister invitation contain him. Angry Rupaksa hear its [sister/ brother] answer. But, he have time to give a memory in the form of headband to Surati. " This Headband [is] you have to keep below/under your bed," order Rupaksa.
Meeting of Surati with sister contain unknown him by Raden Banterang, because of Raden Banterang [is] hunting [in] forest. Tatkala Raden Banterang reside in middlely [of] forest, sudden its sight [is] surprised by arrival a dressy boy [of] compang-camping. " Decant me, Raden Banterang. Threatened Safety Mr. danger planned by sir wife alone," that boy word. " Mr. can see its proof, seen a subjugated to headband [is] its [his/its] place.
That headband property of boy asked to help to kill Mr.," sharpness. After saying that words, dressy boy [of] that compang-camping lose misteriously. Surprised Raden Banterang hear that mysterious boy report. He even also immediately [go/come] home to palace. After arriving at palace, direct Raden Banterang go to peraaduan of [his/its] wife. The searching of headband which have been narrated by dressy boy [of] compang-camping which have met [in] forest. " Ha! that Correctness Word boy! This headband as evidence! You plan will kill me asked help to owner of this headband!" allege Raden Banterang to its wife " So your reciprocation [at] me?" explicitly Raden Banterang."Jangan come [from] to allege. Adinda [is] not at all mean to kill Kakanda, more than anything else ask to help to a boy!" [reply/ answer] Surati. But Raden Banterang remain to [at] its founding, that its wife that have been helped [by] will endanger its life. So, before its threatened soul, Raden Banterang in advance wish ill starredly [of] its wife.
Raden Banterang intend to engulf its wife [in] a river. After arriving at river, Raden Banterang narrate about meeting with a boy of compang-camping when hunting [in] forest. The wife even also narrate about meeting with a dressy boy [of] compang-camping [is] such as those which explained [by] its husband. " That boy [is] sister contain Adinda. He/She who give a headband to Adinda," Surati explain again, [so that/ to be] its Raden Banterang liver luluh. But, Raden Banterang remain to believe that its wife will be ill starred [of] x'self. " my Husband Kakanda! Open liver and feeling of Kakanda! Adinda volunteer die for the shake of safety of Kakanda. But making an opening for Adinda to narrate as for meeting of Adinda with sister contain so called Adinda [of] Rupaksa," say Surati remind.
" Sister of Adindalah to kill kakanda! Adinda enthused [by] aid, but Adinda tolah!". Hearing [the] mentioned , liver of Raden Banterang [do] not melt even assume its wife lie.. " Kakanda ! If this river water become its aroma fragrance and transparent, meaning Adinda not guilty! But, if remain to reek and keruh, meaning guilty Adinda!" exclaim Surati. Raden Banterang assume its wife utterance joke. Hence, Raden Banterang immediately unsheathe slipped between keris [in] its waist. At the same time that also, Surati make a bolt for middlely [of] last river disappear.
Do] not how long, happened a miracle. aroma of Nan odorous [of] merebak around river. See that occurence, Raden Banterang exclaim by ear tremble. " My wife [of] innocent! This water [of] its aroma fragrance!" What a regreting [him/ it] of Raden Banterang. He bewail death of [his/its] wife, and regret its stupidity. But have lost time
Since then, river become its aroma fragrance. In Javanese referred [as] [by] Banyuwangi. its Banyu Meaning [of] its meaning fragrant and water [of] fragrance. Name of Banyuwangi later;then become the name of town of Banyuwangi





Translate :


Asal Usul Kota Banyuwangi
Pada zaman dahulu di kawasan ujung timur Propinsi Jawa Timur terdapat sebuah kerajaan besar yang diperintah oleh seorang Raja yang adil dan bijaksana. Raja tersebut mempunyai seorang putra yang gagah bernama Raden Banterang. Kegemaran Raden Banterang adalah berburu. “Pagi hari ini aku akan berburu ke hutan. Siapkan alat berburu,” kata Raden Banterang kepada para abdinya. Setelah peralatan berburu siap, Raden Banterang disertai beberapa pengiringnya berangkat ke hutan. Ketika Raden Banterang berjalan sendirian, ia melihat seekor kijang melintas di depannya. Ia segera mengejar kijang itu hingga masuk jauh ke hutan. Ia terpisah dengan para pengiringnya.
“Kemana seekor kijang tadi?”, kata Raden Banterang, ketika kehilangan jejak buruannya. “Akan ku cari terus sampai dapat,” tekadnya. Raden Banterang menerobos semak belukar dan pepohonan hutan. Namun, binatang buruan itu tidak ditemukan. Ia tiba di sebuah sungai yang sangat bening airnya. “Hem, segar nian air sungai ini,” Raden Banterang minum air sungai itu, sampai merasa hilang dahaganya. Setelah itu, ia meninggalkan sungai. Namun baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba dikejutkan kedatangan seorang gadis cantik jelita.
“Ha? Seorang gadis cantik jelita? Benarkah ia seorang manusia? Jangan-jangan setan penunggu hutan,” gumam Raden Banterang bertanya-tanya. Raden Banterang memberanikan diri mendekati gadis cantik itu. “Kau manusia atau penunggu hutan?” sapa Raden Banterang. “Saya manusia,” jawab gadis itu sambil tersenyum. Raden Banterang pun memperkenalkan dirinya. Gadis cantik itu menyambutnya. “Nama saya Surati berasal dari kerajaan Klungkung”. “Saya berada di tempat ini karena menyelamatkan diri dari serangan musuh. Ayah saya telah gugur dalam mempertahankan mahkota kerajaan,” Jelasnya. Mendengar ucapan gadis itu, Raden Banterang terkejut bukan kepalang. Melihat penderitaan puteri Raja Klungkung itu, Raden Banterang segera menolong dan mengajaknya pulang ke istana. Tak lama kemudian mereka menikah membangun keluarga bahagia.
Pada suatu hari, puteri Raja Klungkung berjalan-jalan sendirian ke luar istana. “Surati! Surati!”, panggil seorang laki-laki yang berpakaian compang-camping. Setelah mengamati wajah lelaki itu, ia baru sadar bahwa yang berada di depannya adalah kakak kandungnya bernama Rupaksa. Maksud kedatangan Rupaksa adalah untuk mengajak adiknya untuk membalas dendam, karena Raden Banterang telah membunuh ayahandanya. Surati menceritakan bahwa ia mau diperistri Raden Banterang karena telah berhutang budi. Dengan begitu, Surati tidak mau membantu ajakan kakak kandungnya. Rupaksa marah mendengar jawaban adiknya. Namun, ia sempat memberikan sebuah kenangan berupa ikat kepala kepada Surati. “Ikat kepala ini harus kau simpan di bawah tempat tidurmu,” pesan Rupaksa.
Pertemuan Surati dengan kakak kandungnya tidak diketahui oleh Raden Banterang, dikarenakan Raden Banterang sedang berburu di hutan. Tatkala Raden Banterang berada di tengah hutan, tiba-tiba pandangan matanya dikejutkan oleh kedatangan seorang lelaki berpakaian compang-camping. “Tuangku, Raden Banterang. Keselamatan Tuan terancam bahaya yang direncanakan oleh istri tuan sendiri,” kata lelaki itu. “Tuan bisa melihat buktinya, dengan melihat sebuah ikat kepala yang diletakkan di bawah tempat peraduannya. Ikat kepala itu milik lelaki yang dimintai tolong untuk membunuh Tuan,” jelasnya. Setelah mengucapkan kata-kata itu, lelaki berpakaian compang-camping itu hilang secara misterius. Terkejutlah Raden Banterang mendengar laporan lelaki misterius itu. Ia pun segera pulang ke istana. Setelah tiba di istana, Raden Banterang langsung menuju ke peraaduan istrinya. Dicarinya ikat kepala yang telah diceritakan oleh lelaki berpakaian compang-camping yang telah menemui di hutan. “Ha! Benar kata lelaki itu! Ikat kepala ini sebagai bukti! Kau merencanakan mau membunuhku dengan minta tolong kepada pemilik ikat kepala ini!” tuduh Raden Banterang kepada istrinya. “ Begitukah balasanmu padaku?” tandas Raden Banterang.”Jangan asal tuduh. Adinda sama sekali tidak bermaksud membunuh Kakanda, apalagi minta tolong kepada seorang lelaki!” jawab Surati. Namun Raden Banterang tetap pada pendiriannya, bahwa istrinya yang pernah ditolong itu akan membahayakan hidupnya. Nah, sebelum nyawanya terancam, Raden Banterang lebih dahulu ingin mencelakakan istrinya.
Raden Banterang berniat menenggelamkan istrinya di sebuah sungai. Setelah tiba di sungai, Raden Banterang menceritakan tentang pertemuan dengan seorang lelaki compang-camping ketika berburu di hutan. Sang istri pun menceritakan tentang pertemuan dengan seorang lelaki berpakaian compang-camping seperti yang dijelaskan suaminya. “Lelaki itu adalah kakak kandung Adinda. Dialah yang memberi sebuah ikat kepala kepada Adinda,” Surati menjelaskan kembali, agar Raden Banterang luluh hatinya. Namun, Raden Banterang tetap percaya bahwa istrinya akan mencelakakan dirinya. “Kakanda suamiku! Bukalah hati dan perasaan Kakanda! Adinda rela mati demi keselamatan Kakanda. Tetapi berilah kesempatan kepada Adinda untuk menceritakan perihal pertemuan Adinda dengan kakak kandung Adinda bernama Rupaksa,” ucap Surati mengingatkan.
“Kakak Adindalah yang akan membunuh kakanda! Adinda diminati bantuan, tetapi Adinda tolah!”. Mendengar hal tersebut , hati Raden Banterang tidak cair bahkan menganggap istrinya berbohong.. “Kakanda ! Jika air sungai ini menjadi bening dan harum baunya, berarti Adinda tidak bersalah! Tetapi, jika tetap keruh dan bau busuk, berarti Adinda bersalah!” seru Surati. Raden Banterang menganggap ucapan istrinya itu mengada-ada. Maka, Raden Banterang segera menghunus keris yang terselip di pinggangnya. Bersamaan itu pula, Surati melompat ke tengah sungai lalu menghilang.
Tidak berapa lama, terjadi sebuah keajaiban. Bau nan harum merebak di sekitar sungai. Melihat kejadian itu, Raden Banterang berseru dengan suara gemetar. “Istriku tidak berdosa! Air kali ini harum baunya!” Betapa menyesalnya Raden Banterang. Ia meratapi kematian istrinya, dan menyesali kebodohannya. Namun sudah terlambat.
Sejak itu, sungai menjadi harum baunya. Dalam bahasa Jawa disebut Banyuwangi. Banyu artinya air dan wangi artinya harum. Nama Banyuwangi kemudian menjadi nama kota Banyuwangi.

Wednesday, 28 January 2009

The Legend of Princess Loro Jonggrang

Name : Fitria Nur Fadillah
No. : 21
Class : XE

The Legend of Princess Loro Jonggrang

Once upon a time in Java Island, especially in Prambanan, there are two Hindu kingdoms, they are Pengging and Kraton Boko. Pengging Kingdom is a prosperous and welfare kingdom that is lead by a wise king named Prabu Damar Moyo who has a son named Raden Bandung Bondowoso.

Kraton Boko is a part of Pengging Kingdom jurisdiction who is lead by a cruel and fully anger king that is not a man but a giant who is a man eater, named Prabu Boko. However, Prabu Boko has a very beautiful daughter named Princess Loro Jonggrang. Prabu Boko also has a minister named Patih Gupolo that is a giant too. Prabu Boko has a desire to revolt and has control over Pengging Kingdom. Therefore, together with Patih Boko, they gathered the power by training men to become soldiers and collect goods from civil people as provisions.


After having enough preparation, Prabu Boko and all soldiers go to Pengging Kingdom to revolt. Then the war between Pengging and Boko Soldier happen in Pengging kingdom. A lot of soldiers died from both side. People of Pengging become suffer, hunger and poor.

Knowing that his people were suffering and there were lots of soldiers died, Prabu Damar Moyo send his son, Raden Bandung Bondowoso to have a battle with Prabu Boko. The fighting between Raden Bandung Bondowoso and Prabu Boko was very furious. Because of the power of Raden Bandung Bondowoso, Prabu Boko can be defeated and died. When Patih Gupalo found out that his king has died, he ran away from the battle. Raden Bandung Bondowoso chases him to Kraton Boko.

After arrive at Kraton Boko, Patih Gupalo reported to Princess Loro Jonggrang that her father has died in the battle, that he was killed by a Pengging knight named Raden Bandung Bondowoso. Then the princess cries, she is very sad because of the death of her father.

Raden Bandung Bondowoso finally arrives at Kraton Boko. He is surprise when he saw Princess Loro Jonggrang that is very beautiful, so he propose her to become his wife.

However, Princess Loro Jonggrang does not want to marry Raden Bandung Bondowoso because he has killed her father. To refuse his propose, Princess Loro Jonggrang has a strategy. She has 2 requests that should be fulfilled by Raden Bandung Bondowoso so that she will agree to marry him. The first request is that she asks him to make Jalatunda well. The second one she asks him to make 1000 temples in one night.

Raden Bandung Bondowoso accepts the requests. Immediately he starts to make Jalatunda Well and asks Princess Loro Jonggrang to see it. Then, Princess Loro Jonggrang asks Raden Bandung Bondowoso to go into the well, and after that she ordered Patih Gupolo to pile up the well with stone. Both Princess Loro Jonggrang and Patih Gupolo thought that Raden Bandung Bondowoso already died in the well, however Raden Bandung Bondowoso still alive. He meditated and finally he can get out form the well safely.

Raden Bandung Bondowoso was very angry with Princess Loro Jonggrang and look after her, but because of her beauty, his anger become calm down.

After that, Princess Loro Jonggrang asking Raden Bandung Bondowoso to do the second request which is to make 1000 temples in one night. Therefore Raden Bandung Bondowoso commanded jinn to make the temples immediately. However Princess Loro Jonggrang intends to foil his effort to make the temples. She ordered the girls to pound and burn stubbles, so that it looks like bright that means the morning has come and make the cocks crowing loudly.

Hearing the cock crowing and people pounding rice and also see the brightness in east, therefore the jinn stop making temples. Jinn reported to Raden Bandung Bondowoso that they cannot continue build the temple because morning has come. Raden Bandung Bondowoso got the feeling that morning has not come yet. He ask Princess Loro Jonggrang to count the amount of the temples and come out that the total is only 999 temples, there is still 1 temple left. Therefore Princess Loro Jonggrang refused to marry Raden Bandung Bondowoso. Feeling deceived Raden Bandung Bondowoso become very angry and curse her "Loro Jonggrang, there is only 1 temple left, let you be the one to make it complete". It was a miracle that suddenly Princess Loro Jonggrang transformed to a stone statue.

Until today, the stone statue of Princess Loro Jonggrang is still in Candi Prambanan and Raden Bandung Bondowoso cursed the girls around Prambanan area to become old virgins because they have helped Princess Loro Jonggrang.

Based on what is believed by old people, the couple who are dating in Prambanan temple will be broke up.
Terjemahan :
Legenda Ratu Loro Jonggrang
Pernah suatu ketika di Pulau Jawa, khususnya di Prambanan, terdapat dua kerajaan Hindu, mereka Pengging dan Kraton hidung. Kerajaan Pengging adalah kerajaan makmur dan kesejahteraan yang memimpin oleh raja yang bijaksana bernama Prabu Damar Moyo yang memiliki seorang anak laki-laki bernama Raden Bandung Bondowoso.

Kraton hidung merupakan bagian dari Kerajaan Pengging yurisdiksi yang memimpin dengan kejam dan penuh amarah raja yang tidak manusia tetapi raksasa adalah manusia yang malas, bernama Prabu hidung. Namun, Prabu hidung sangat indah anak perempuan bernama Princess Loro Jonggrang. Prabu hidung juga memiliki menteri bernama Patih Gupolo yang terlalu raksasa. Prabu hidung memiliki keinginan untuk memberontak dan memiliki kontrol atas Kerajaan Pengging. Karena itu, bersama dengan Patih hidung, mereka dikumpulkan oleh kuasa pelatihan laki-laki untuk menjadi prajurit dan mengumpulkan barang-barang dari masyarakat sipil sebagai ketentuan.


Setelah cukup persiapan, Prabu hidung dan semua prajurit pergi ke Kerajaan Pengging untuk memberontak. Kemudian perang antara Pengging dan hidung Soldier terjadi di kerajaan Pengging. Banyak prajurit meninggal dari kedua pihak. Rakyat Pengging menjadi menderita, kelaparan dan miskin.

Mengetahui bahwa orang yang menderita dan terdapat banyak prajurit tewas, Prabu Damar Moyo mengutus anaknya, Raden Bandung Bondowoso memiliki peperangan dengan Prabu hidung. Berjuang di antara Raden Bandung Bondowoso dan Prabu hidung sangat hebat. Karena kekuasaan Raden Bandung Bondowoso, Prabu hidung dapat dikalahkan dan mati. Ketika Patih Gupalo menemukan bahwa raja telah meninggal, ia berlari keluar dari peperangan. Raden Bandung Bondowoso chases dia Kraton hidung.

Setelah tiba di Kraton hidung, Patih Gupalo dilaporkan ke Princess Loro Jonggrang ayahnya yang telah meninggal dalam peperangan, bahwa dia telah dibunuh oleh Pengging knight bernama Raden Bandung Bondowoso. Maka princess cries, ia sangat sedih karena kematian ayahnya.

Raden Bandung Bondowoso akhirnya tiba di Kraton hidung. Dia adalah mengherankan apabila dia melihat Princess Loro Jonggrang yang sangat indah, sehingga ia mengusulkan dia menjadi isterinya.

Namun, Princess Loro Jonggrang tidak mau menikah Raden Bandung Bondowoso kerana dia telah membunuh ayahnya. Untuk menolak dia mengemukakan, Princess Loro Jonggrang memiliki strategi. Dia memiliki 2 permintaan yang harus dipenuhi oleh Raden Bandung Bondowoso sehingga ia akan setuju untuk menikahi dia. Yang pertama adalah bahwa ia meminta meminta dia untuk membuat Jalatunda baik. Yang kedua ia meminta dia untuk membuat 1000 candi dalam satu malam.

Raden Bandung Bondowoso menerima permintaan. Segera ia mulai membuat Well Jalatunda dan meminta Princess Loro Jonggrang untuk melihatnya. Kemudian, Princess Loro Jonggrang meminta Raden Bandung Bondowoso untuk pergi ke sumur, dan setelah itu ia memerintahkan Patih Gupolo untuk menimbun sumur dengan batu. Kedua Princess Loro Jonggrang dan Patih Gupolo berpikir bahwa Raden Bandung Bondowoso sudah meninggal dalam sumur, namun Raden Bandung Bondowoso masih hidup. Dia meditated dan akhirnya ia bisa mendapatkan formulir dari sumur aman.

Raden Bandung Bondowoso sangat marah dengan Princess Loro Jonggrang dan setelah melihat dia, tetapi karena dia kecantikan, ia menjadi marah calm down.

Setelah itu, Princess Loro Jonggrang meminta Raden Bandung Bondowoso untuk melakukan permintaan yang kedua adalah untuk membuat 1000 candi dalam satu malam. Oleh karena itu Raden memerintahkan jin Bandung Bondowoso membuat candi dengan segera. Namun Princess Loro Jonggrang bermaksud untuk menggagalkan upaya-Nya untuk membuat candi. Ia memerintahkan perempuan untuk pound dan membakar stubbles, sehingga terlihat seperti terang yang berarti pagi telah datang dan membuat cocks kokok keras.

Pendengaran yang kokok ayam jantan dan orang ketukan beras dan juga melihat kecerahan di timur, maka jin berhenti membuat candi. Jin dilaporkan ke Raden Bandung Bondowoso bahwa mereka tidak dapat terus membangun candi karena pagi telah datang. Raden Bandung Bondowoso mendapatkan rasa pagi yang belum datang. Dia meminta Princess Loro Jonggrang untuk menghitung jumlah candi dan keluar yang total hanya 999 candi, masih ada 1 kiri candi. Oleh karena itu Princess Loro Jonggrang menolak untuk menikah Raden Bandung Bondowoso. Merasa tertipu Raden Bandung Bondowoso menjadi sangat marah dan mengutuk dia "Loro Jonggrang, hanya ada 1 kiri candi, anda akan membiarkan yang membuatnya lengkap. Ia adalah mukjizat yang tiba-tiba Princess Loro Jonggrang ditransformasikan ke patung batu.

Sampai saat ini, batu Princess patung Loro Jonggrang masih di Candi Prambanan dan Raden Bandung Bondowoso mengutuk the girls Prambanan sekitar area yang menjadi virgins tua karena mereka telah membantu Princess Loro Jonggrang.

Berdasarkan apa yang diyakini oleh orang tua, pasangan yang sedang kencan di Candi Prambanan akan broke up.

Monday, 26 January 2009

Sangkuriang

Name : Rizky Arya
No : 35
Class: X E
The Legend of Sangkuriang
This is an example of how nature was converted into a legend, such as Bandung lake and Mt Tangkuban Perahu with the story of Queen Dayang Sumbi and her son Sangkuriang cited from Neuman va Padang (1971). Once Sangkuriang, whilst growing up, he was so naughty and got hurt and the wound formed an ugly scar.
The King, who loved his son above everything was so furious that his son had hurt himself that he rejected his wife. Fifteen years later, being of age, Sangkuriang asked his father permission to take a trip to West Java. After arriving in the plain of Bandung, he met a beautiful lady, fell in love and ask her to marry him and she accepted. But one day when she caressed her lover’s head she saw the wound. The loving woman, turned out to be the disowned queen, discovered that she was in love with her son and marriage was impossible.
The marriage had to be prevented. Not willing to admit that she was his mother she thought of a way out. The day before the wedding was due to take place, she said to her husband to be, tomorrow is our wedding day, and if you are true to your love to me and love me as much you say do then I want to celebrate the wedding on board a ship, a proa. Tomorrow morning at day break, I want to sail with you on a great lake in a nice boat and there must be a banquet feast. Sangkuriang was embarrassed but he was not willing to refuse. He begged the help of the lake’s helpful spirits. By causing a landslide, the lake spirit dammed the river Citarum that flowed through the plain of Bandung. The force of the water felled big tree and a boat was constructed while other lake spirits prepared the wedding banquet.
Early in the morning the Queen saw that the impossible had been realised so she prayed to Brama, the mighty God, to help her to prevent the disgrace of a marriage between a mother and her son. Brama destroyed the dam in turbulence and Sangkuriang was drowned. The queen in her agony threw herself on the capsized boat, breaking through the hull of the ship and was also drowned.
Now, the vast plain of Bandung is flanked on its north side by the volcano Tangkuban Perahu, the capsized boat. The Queen’s jump on the hull of the ship is the Kawah Ratu, the crater of the Queen. The hot fumaroles and tremors in the crater represent the tears of the sad mother still sobbing. East of Mt Tangkuban Perahu rises the Bukit Tunggul, trunk mountain, the trunk of the tree from which the boat was made and to the west we find Mt Burangrang, the “crown of leaves”. At many places along the shore of the lake Neolithic obsidian tools of primitive inhabitants are found and described by von Koeningswald (1935). These Neolithic people noticed that the hold was cut deeper and deeper by erosion caused by the lowering water. Finally only a marshy plain remained.
Centuries later the inhabitants of Bandung plain still know about the legend of the existence of a former lake. Not knowing anything about geology, but living in the taboos of spirit ghosts and Gods, geological facts were put together in a tale that was understandable.

Terjemahan :

Ini adalah contoh bagaimana alam telah dikonversi menjadi legenda, seperti danau Bandung dan Gunung Tangkuban Perahu dengan cerita Ratu Dayang Sumbi dan Sangkuriang anaknya dikutip dari Neuman va Padang (1971). Setelah Sangkuriang, sementara tumbuh dewasa, dia jadi nakal dan terluka dan mendapat luka yang dibentuk ugly scar.
Raja, yang mengasihi anaknya di atas segalanya sangat hebat anaknya yang telah menyakiti dirinya bahwa ia menolak istrinya. Lima belas tahun kemudian, karena usia, Sangkuriang ditanya ayahnya izin untuk bepergian ke Jawa Barat. Setelah tiba di dataran Bandung, ia bertemu dengan seorang wanita cantik, jatuh cinta dan meminta dia untuk menikahi dia dan dia diterima. Tetapi satu hari ketika ia caressed her lover kepala dia melihat luka. Wanita yang penuh kasih, ternyata menjadi disowned ratu, menemukan bahwa dia cinta dengan anaknya dan perkawinan adalah mustahil.
Perkawinan harus dicegah. Tidak mau mengakui bahwa dia adalah ibunya dia pemikiran jalan keluar. Hari sebelum pernikahan itu karena terjadi, dia berkata kepada suaminya yang akan, besok adalah hari pernikahan kami, dan jika Anda benar Anda suka saya dan saya kasih sebanyak apa yang Anda katakan kemudian saya ingin merayakan pernikahan pada papan sebuah kapal, sebuah perahu. Besok pagi pada jam istirahat, saya ingin berlayar dengan Anda di danau yang besar dalam nice perahu dan harus ada suatu perjamuan pesta. Sangkuriang telah malu tetapi dia tidak bersedia untuk menolak. Dia begged bantuan danau dari helpful roh. Oleh menyebabkan tanah longsor, danau semangat dammed sungai Citarum yang dialirkan melalui dataran Bandung. Kekuatan air roboh dan pohon besar, kapal ini dibuat sementara lainnya danau roh mempersiapkan perjamuan pernikahan.
Pagi-pagi Ratu melihat bahwa mungkin telah menyadari sehingga ia berdoa kepada Brama, Allah yang kuat, untuk membantunya untuk mencegah fadihat dari perkawinan antara ibu dan anaknya. Brama menghancurkan bendungan dalam kerusuhan dan Sangkuriang telah tenggelam. Ratu di sekarat melemparkan diri pada capsized perahu, melanggar melalui hull dari kapal dan juga tenggelam.
Kini, luas biasa dari Bandung flanked pada sisi utara oleh gunung berapi Tangkuban Perahu, yang capsized perahu. The Queen's melompat pada hull dari kapal adalah Kawah Ratu, kawah yang dari Queen. Fumaroles yang panas dan tremors di kawah mewakili air mata dari ibu masih sedih tersedu. Timur Gunung Tangkuban Perahu meningkat di Bukit Tunggul, gunung batang, yang batang pohon dari perahu yang dibuat dan di sebelah barat kami menemukan Gunung Burangrang, yang "mahkota daun". Di banyak tempat di sepanjang pantai danau Obsidian alat berkenaan dgn jaman batu baru dari penduduk primitif yang ditemukan dan dijelaskan oleh von Koeningswald (1935). Berkenaan dgn jaman batu baru ini bahwa orang yang terus memotong dan lebih mendalam oleh erosi yang disebabkan oleh penurunan air. Akhirnya hanya rawa tetap polos.
Abad kemudian penduduk Bandung masih polos tentang legenda mengetahui keberadaan mantan danau. Tidak mengetahui apapun tentang geologi, tetapi tinggal di taboos ghosts dan roh dari Allah, geologi telah mengumpulkan fakta-fakta dalam cerita yang dapat dimengerti.

Sunday, 25 January 2009

THE LEGEND OF KANTAN ISLAND

Nama :Novaria
No :30
kelas :XE

IN ENGLISH:
(Folklore from North Sumatra)


Once upon a time in Labuhan Batu, North Sumatra lived an old widow with her son named Kantan. Her husband passed away when Kantan was a baby. They lived in a village not far from a jungle.
They were poor.
One night, Kantan’s mother had a dream. An old man came to her and asked her to go to the jungle. Under the big tree, the old man asked her to dig a hole. She would a find something very valuable.
Kantan’s mother knew it was not just a dream. So, she asked Kantan to go to the jungle with her. When they found a big tree, Kantan dug a hole. Later, they found a box. When they opened it, they saw a golden stick. It was very beautiful.
“Mother, we have to sell this. We will be very rich!” said Kantan.
“You are right. The golden stick is so beautiful. I’m sure someone is willing to pay with a lot of money. But who is going to buy this stick? All our neighbours are poor.”
“Don’t worry, mother. I will go to the other island to sell it. I will find a very rich man to buy this golden stick,” said Kantan.
Later, Kantan sailed the sea to go to Malaka Island. When he arrived there, Kantan offered the stick to merchants.
But they could not pay him. Kantan asked them to pay with a lot of money.
The news spread very fast. Everybody in Malaka knew that Kantan had a beautiful golden stick. The king also heard that. He asked his soldiers to take Kantan to go his palace. The king wanted to see the stick.
“You are right. The stick is very beautiful,” said the king after Kantan showed him the stick. The king then continued, “I want to have this stick. But I will not give you a lot of money. I will ask you to marry my daughter. You can stay here in the palace and later you can be the king to replace me,” said the king.
Kantan immediately agreed. Not long after that, they got married and stayed in the palace. Kantan was very happy and started to forget about his mother in the village.
In the meantime, Kantan’s wife always asked him about his mother. His wife really wanted to meet her mother-in-law. Kantan agreed. With a big ship, they sailed to Kantan’s hometown. When they arrived, all the villagers were surprised to see Kantan.
He was a prince! They then told everyone about Kantan. Finally,
Kantan’s mother heard the news. She was very happy. When she arrived at the ship, she immediately called Kantan’s name.
“Kantan! Kantan! It’s me, I’m your mother.”
But Kantan ignored her. He was ashamed with his mother. She was an old woman and wore ragged clothes.
When his wife asked, Kantan just said she was a crazy woman pretending to be his mother.
Kantan’s mother was very sad. She prayed to God. Suddenly, a big storm attacked! Big waves swallowed Kantan’s big ship. When the storm was gone, slowly an island appeared. Since then, people named the island as Kantan Island.


IN INDONESIA:

(Folklore dari Sumatra Utara)

Pada suatu ketika di Labuhan Batu, Sumatra Utara hidup seorang janda tua dengan anak lelakinya bernama Kantan. Suaminya meninggal ketika Kantan menjadi seorang bayi. Mereka tinggal di desa tidak jauh dari hutan. Mereka miskin. Satu malam, ibu Kantan bermimpi. Seorang laki-laki tua datang kepadanya dan memintanya pergi ke hutan. Di bawah pohon besar, laki-laki tua memintanya menggali liang. Dia akan menemukan sesuatu yang sangat berharga. Ibu Kantan tahu ini bukan hanya mimpi saja. Oleh sebab itu, dia meminta Kantan pergi ke hutan dengannya. Ketika mereka menemukan pohon besar, Kantan menggali liang.Kemudian, mereka menemukan sebuah kotak. Ketika mereka membukanya, mereka melihat sehelai tongkat keemasan. Sangat indah. “Ibu, kita mesti menjual ini. Kita akan sangat kaya!” kata Kantan.

Kemudian, Kantan mengarungi laut untuk pergi ke pulau Malaka .Ketika dia tiba di sana, Kantan menawarkan tongkat kepada saudagar. Tetapi mereka tidak bisa membayarnya. Kantan meminta mereka membayar dengan banyak uang. Berita menjalar sangat cepat. Semua orang di Malaka tahu bahwa Kantan mempunyai sehelai tongkat keemasan yang indah. Raja juga mendengar itu. Dia meminta tentaranya membawa Kantan untuk pergi istananya. Raja mau melihat tongkat. “Kamu benar, Tongkat ini sangat indah,” kata raja setelah Kantan memperlihatkan tongkat kepadanya. Raja kemudian berkata, “saya mau mempunyai tongkat ini. Tetapi saya tidak akan memberi anda banyak uang. Saya akan meminta anda menikahi anak perempuan saya. Anda bisa tinggal di sini di istana dan nanti anda bisa menjadi raja untuk menggantikanku,” kata raja.

Kantan dengan segera setuju. Tidak lama setelah itu, mereka menikah dan tinggal di istana. Kantan sangat bahagia dan mulai lupa akan ibunya di desa. Sementara itu, istri Kantan selalu bertanya mengenai ibunya. Istrinya benar-benar ingin untuk menjumpai ibu mertuanya. Kantan setuju. Dengan kapal besar, mereka berlayar ke kampung halaman Kantan. Ketika mereka tiba, sama sekali orang desa heran untuk melihat Kantan. Dia adalah seorang pangeran! Mereka kemudian mengatakan kepada tiap orang di sekitar Kantan. Akhirnya, ibu Kantan mendengar berita itu. Dia sangat bahagia. Ketika dia tiba di kapal, dia dengan segera memanggil nama Kantan.

“Kantan! Kantan! ini saya, saya ibumu. ” Tetapi Kantan mengabaikannya. Dia malu dengan ibunya. Dia adalah seorang wanita tua dan memakai pakaian compang-camping. Waktu istrinya bertanya, Kantan hanya mengatakan dia adalah seorang wanita gila yang berpura-pura menjadi ibunya. Ibu Kantan sangat sedih. Dia bersembahyang kepada Tuhan. Tiba-tiba, angin topan besar menyerang! Gelombang besar menelan besar kapal Kantan. Ketika angin topan hilang, dengan lambat sebuah pulau muncul. Sejak itu, orang menyebut pulau itu sebagai Pulau Kantan.